Malaysia Flag Orb

Pages

Republik Rakyat Hongaria

          
Republik Rakyat Hongaria (bahasa Hongaria: Magyar Népköztársaság) adalah nama resmi Hongaria sejak 1949 hingga 1989 saat negara tersebut dikuasai oleh pemerintahan komunis yang didukung oleh Uni Soviet. Negara ini ada hingga tahun 1989 ketika kekuatan oposisi bersatu untuk memaksa pemerintah meninggalkan komunisme. Negara ini menganggap dirinya sebagai penerus Republik Soviet Hongaria yang dibentuk pada tahun 1919 dan merupakan negara sosialis kedua yang dibentuk setelah Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia.

Jerman Timur

           
Jerman Timur, atau resminya Republik Demokratik Jerman (bahasa Jerman: Deutsche Demokratische Republik / DDR), adalah sebuah negara sosialis yang pernah ada di Jerman dari tahun 1949 sampai tahun 1990.
Dibentuk pada 7 Oktober 1949, empat tahun setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2, di wilayah pendudukan Uni Soviet atas dorongan Uni Soviet. Sebelumnya pada 23 Mei 1949, dibentuk Republik Federal Jerman dengan bantuan tiga Sekutu Barat di wilayah pendudukan mereka.
Seteleh Revolusi Damai 1989/1990 dan berakhirnya sosialisme di Jerman Timur, Volkskammer, yang untuk pertama kalinya dipilih secara bebas, memutuskan untuk bergabung dengan Jerman Barat. Dengan Bersatu kembalinya Jerman, pada tanggal 3 Oktober 1990 berakhirlah eksistensi Jerman Timur.

Dinasti Yuan

 
Dinasti Yuan (Hanzi: 元朝, hanyu pinyin: yuan chao; Bahasa Mongol: Dai Ön Yeke Mongghul Ulus.PNG Dai Ön Yeke Mongghul Ulus) (1271 - 1368) adalah satu dari tiga dinasti asing di Cina (yang lainnya adalah dinasti Jurchen dan Qing). Dinasti asing berarti dinasti yang bukan didirikan oleh orang Han karena di zaman dulu, Han adalah satu-satunya yang dianggap mewakili entitas China. Dinasti ini didirikan oleh Yuan Sizhu, cucu dari Jenghiz Khan yang mendirikan kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia.

Yuan Chengzong

 
Yuan Chengzong (Hanzi tradisional: 元成宗; Pinyin: Yuán Chéngzōng) (lahir 15 Oktober 1265 – meninggal 10 Februari 1307 pada umur 41 tahun) adalah Kaisar kedua dari Dinasti Yuan. Ia memerintah antara 10 Mei 1294 sampai 10 Februari 1307, dan seorang kaisar yang memerintah dengan baik dan berhasil memantapkan stuktur kekuasaan Dinasti Yuan untuk beberapa dekade selanjutnya.
Ia adalah anak dari Pangeran Mahkota Zhenjin (真金), dan merupakan cucu dari Yuan Shizu. Di masa pemerintahannya, dinasti-dinasti Tran, Pagan, dan Champa serta berbagai kekhanan Mongolia di wilayah barat mengakui kekuasaannya.

Yuan Shizǔ

YuanEmperorAlbumKhubilaiPortrait.jpg 
Yuan Shizǔ Tionghoa: 元世祖; pinyin: Yuán Shìzǔ; Wade-Giles: Yüan Shih-tsu, "pendiri Kerajaan Yuan (23 September 1215 - 18 Februari 1294) adalah pendiri dan juga Kaisar Dinasti Yuan (1279-1294). Terlahir sebagai putra kedua dari Tului dan Sorghatani Beki, cucu dari Jenghis Khan. Ia menggantikan kakaknya Mongke pada tahun 1260.

Yuan Shizǔ adalah cucu Jenghis Khan. Masa mudanya dihabiskan untuk mempelajari kebudayaan Tiongkok. Saat Mongke menjadi kaisar, Yuan Shizǔ menjadi gubernur daerah Selatan Mongol. Saat menjabat, Yuan Shizǔ meningkatkan hasil bumi provinsi Henan dan meningkatkan kesejahteraan sosial Xi'an.
Pada tahun 1253, Yuan Shizǔ menyerang Yunnan. Kemudian ia menguasai dan menghancurkan kerajaan Dali. Pada tahun 1258, Mongke menunjuk Yuan Shizǔ untuk memimpin Pasukan dari Timur untuk membantu menaklukkan Sichuan dan Yunnan. Sebelum tiba (1259), ada berita bahwa Mongke wafat. Saat itu Yuan Shizǔ tetap menyerang Wuhan. Tak lama ia mendengar bahwa adiknya merebut tahta. Yuan Shizǔ langsung berdamai dengan negeri Song dan pulang ke arah utara padang Mongolia.
Yuan Shizǔ dan adiknya masing-masing lalu mengangkat diri menjadi Khan. Pertempuran keduanya berlangsung selama 3 tahun, dimana Yuan Shizǔ muncul sebagai pemenang. Saat itulah gubernur Yizhou, Li memberontak melawan Mongol. Kejadian ini menimbulkan rasa tidak percaya Yuan Shizǔ terhadap bangsa Han. Saat berkuasa, Yuan Shizǔ mengeluarkan hukum anti Han, seperti larangan gelar bagi penguasa daerah di Tiongkok.

kemudian mengangkat dirinya bukan saja sebagai Khan dari Kekaisaran Mongolia, namun juga sebagai Kaisar China, dan membangun Dinasti Yuan di tanah China. Ia lalu memerintahkan untuk memindahkan ibukota Mongol ke Beijing. Pada saat itu kerajaan Mongol mencapai zaman keemasannya dimana pedagang dari China dapat pergi berdagang di Eropa dengan aman. Para pedagang Eropa yang haus akan kain sutra pun dapat datang membeli barang dagangan di China dengan aman tentram. Marco Polo dari Italia tiba di China pada masa Dinasti Yuan, dan pernah dijadikan gubernur oleh Yuan Shizǔ. Hal inilah menandakan perdagangan langsung pertama kalinya muncul antar Eropa dan China, dimana permintaan Eropa akan porselein, ukiran, dan sutra dari China melaju tinggi.
Berbagai invasi ke negeri-negeri Asia Timur dan Asia Tenggara dilancarkan oleh pasukan-pasukan Yuan Shizǔ.Tujuan utamanya ialah untuk memperluas pengaruh kekuasaan, melancarkan perdagangan dan menerima upeti dari negara-negara lain di Asia. Kekaisaran Dinasti Yuan mencapai batas terluasnya saat di bawah kekuasaan Yuan Shizǔ, dengan penaklukan tuntasnya atas Dinasti Sung, yang terjadi pada tahun 1279.

Yuan Shizǔ tidak hanya disibukan oleh peperangan, namun ia juga mempelajari tradisi China. Ia senang dengan kehidupan dan adat istiadat China. Artis, tukang pahat, tukang masak terbaik semua dikumpulkan di Beijing untuk memacu adat-istiadat negara. Marco Polo dikabarkan juga membawa banyak kekayaan budaya seperti sutra dan resep memasak dari China ke Italia.

Dari prestasinya terhadap Dinasti Yuan yaitu:
a.Invasi ke Korea
b.Invasi ke Jepang (2 kali penyerangan,2 kali pula gagal)
c.Invasi ke Annam
d.Invasi ke Champa dan Kamboja
e.Invasi ke Tibet dan Thailand
f.Invasi ke Myanmar
g.Invasi ke Jawa (juga gagal karena siasat Raden Wijaya)






Biligtü Khan

YuanEmperorAlbumAyushiridaraPortrait.jpgBiligtü Khan, born Ayushiridara , was a ruler of the Northern Yuan Dynasty in Mongolia. Ascended to the throne after the death of his father who was the last Yuan emperor, he defeated the invading Ming army in 1372 and recaptured some Chinese borderlands that were previously lost to the newly-founded Ming Dynasty.
Ayushiridara was the eldest son of Toghun Temür Khan and Öljei Khutughu Khatun in 1338. He was given his earliest tuition in Chinese at the house of his father's minister, Toghtogha, at age ten. Toghun Temür's principal empress, Danashri, bore only one son who died in infancy. The Mongol noyans mostly preferred another Borjigin (Mongol noble) heir, rather than Ayushiridara, as his mother was a former palace maid and tea server of Korean nationality.Only after the purge of Danashri's family and the death of Bayan of the Merkid, he and his mother were accepted at the Mongolian court. Induced by his Korean empress, Öljei Khutughu, the Yuan Emperor Toghun Temür scheduled to elect his heir apparent in 1353. However, Toghtogha delayed the schedule for some unknown reason. This aroused the anger of the latter's political enemies. The chief minister and his former protégé, Hama, and Ayushiridara, with the support of the empress Öljei Khutughu, accused him of corruption and violation of law while he was fighting the Red Turban Rebellion in 1354. This situation halted Toghtogha who was successful in defeating the rebellion and was stripped of his dignities and sent to Hoai-nan into exile.
Hama was made first minister and all power was then in his hands. Elated by this success, Hama decided to raise to the throne Ayushiridara. This plot was discovered, Hama was sentenced to exile and strangled by his enemies there in 1356, and Ayushiridara was pardoned.When he became crown prince in 1353, it caused internal strife between his supporters and opponents. Seven years later the heir and Öljei Khutughu wished the first minister, Tai ping, should prevail on the Khagan to resign and leave him dominion. When Tai ping refused, they had poisoned the minister's partisans and forced him to resign. Power passed to a eunuch, Papuhwa, and to Cho sekin, two weak men. An opposition leader Bolad-Temür occupied the capital in 1364. Ayushiridara was ordered back by his father to Dadu. Feeling himself not powerful enough to resist Bolad-Temür's large army, Ayushiridara fled to the Yuan general, Köke Temür. When Bolad-Temür learned that Ayushiridara was advancing with troops, he arrested Öljei Khutughu and forced her to recall her son to the capital. However, Bolad-Temür's commanders deserted to Köke Temür. Toghun Temür secretly ordered Ho chang, son of the prince of Wei chun, to murder Bolad-Temür. After the latter's death, Köke Temür defeated Bolad-Temür's commander Tukiel in 1365. Ayushiridara forced Köke Temür to persuade the Emperor to resign in his favor. The Emperor was unwilling to abdicate, but he appointed his son lieutenant in the Yuan. Köke Temür tried to prevent it, but failed and was stripped of his dignities.
In 1368 the Yuan Dynasty was overthrown by the Ming Dynasty, and Toghun Temür Khan and his family fled north to Shangdu from Dadu. In 1370 Toghun Temür died in Yingchang. The Ming army captured the city and relatives and Maidarbal, a son of Ayushiridara who escaped safely to Karakorum where he was officially enthroned as Khagan of the Mongols with the Mongolian title of Biligtü (Intelligent).

Toghun Temur

YuanEmperorAlbumToghunTemürPortrait.jpgToghun Temür or Emperor Huizong of Yuan, was a son of Kuśala who ruled as Emperor of the Yuan Dynasty, and is considered the last Khan of the Mongol Empire. During the last years of his reign, the Mongols lost effective control over China to the Ming Dynasty. He was a Buddhist student of Karmapas and is considered a previous incarnation of Tai Situpa. His name means "smart/bright Khan" in the Mongolian language.
Toghun Temür was born to Kuśala when he stayed in Central Asia in exile. Toghun Temür's mother was Mailaiti, descendant of Arslan, the chief of the Qarluq tribe.
Following the civil war that broke out after Yesün Temür Khan's death in 1328, he attended his father Kuśala and entered Shangdu via Mongolia. But after Kuśala died and Kuśala's younger brother Tugh Temür was restored to the throne, he was kept from the court and was banished to Goryeo and then to Guangxi. While he was in exile, his stepmother Babusha was executed.
In 1332 when Tugh Temür died, his widow Budashiri Khatun respected his will to make Kuśala's son succeed the throne instead of his son El Tegüs. But it was not Toghun Temür but his younger half-brother Rinchinbal who became the emperor. Rinchinbal died in two months, and the de facto ruler El Temür attempted to install El Tegüs again, but it was rejected by Budashiri. As a result, Toghun Temür was summoned back from Guangxi. El Temür feared that Toghun Temür, who was too mature to be a puppet, would take arms against him since he was suspected of the assassination of Toghun Temür's father Kuśala. The enthronement of Toghun Temür was postponed for six months by El Temür. He managed to accede to the throne in 1333 when El Temür died.
 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com